id
en
ar

Gode-Gode sebagai Sarana Belajar Mahasiswa Prodi APD Dalam Menghidupkan Tradisi dan Menumbuhkan Gagasan

Gode-Gode sebagai Sarana Belajar Mahasiswa Prodi APD Dalam Menghidupkan Tradisi dan Menumbuhkan Gagasan

FIPH Online – Suasana menarik tampak di lingkungan Fakultas Ilmu Pemerintahan dan Hukum (FIPH) Universitas Muslim Buton pada Selasa (9/6/2026). Sejumlah mahasiswa Program Studi Administrasi Pemerintahan Daerah (APD) terlihat berkumpul di sebuah gode-gode, duduk melingkar sambil mendengarkan penjelasan dan berdiskusi bersama dosen pengampu mata kuliah Perencanaan Pembangunan Daerah, La Yopi, S.A.P., M.A.P.

Di bawah rindangnya pepohonan dan hembusan angin yang sejuk, proses pembelajaran berlangsung hangat dan penuh keakraban. Tidak ada sekat antara dosen dan mahasiswa. Pertanyaan demi pertanyaan mengalir, ide-ide berkembang, dan diskusi berlangsung secara aktif. Suasana tersebut menghadirkan pengalaman belajar yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga memperkuat pemahaman mahasiswa terhadap materi yang dipelajari.

Bagi masyarakat Buton, gode-gode bukanlah sekadar bangunan sederhana untuk beristirahat. Sejak dahulu, tempat ini menjadi ruang sosial tempat warga berkumpul untuk membahas berbagai persoalan kehidupan, mulai dari isu sosial, budaya, ekonomi, politik, hingga pemerintahan. Dari percakapan-percakapan sederhana di atas gode-gode sering lahir gagasan, keputusan bersama, bahkan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

Gode gode

Tradisi tersebut kini dihidupkan kembali dalam lingkungan akademik Universitas Muslim Buton. Gode-gode tidak hanya menjadi simbol budaya lokal, tetapi juga menjadi ruang belajar yang produktif. Di tempat inilah mahasiswa dan dosen bertukar pikiran mengenai filsafat ilmu, tata kelola pemerintahan, hasil penelitian, kegiatan pengabdian kepada masyarakat, hingga penyelesaian berbagai tugas akademik.

Dosen pengampu mata kuliah Perencanaan Pembangunan Daerah, La Yopi, S.A.P., M.A.P., menjelaskan bahwa pembelajaran tidak harus selalu berlangsung di dalam ruang kelas.

“Belajar yang efektif tidak hanya ditentukan oleh materi yang disampaikan, tetapi juga oleh suasana yang mendukung proses berpikir. Ketika mahasiswa merasa nyaman, santai, dan tidak tertekan, mereka lebih mudah mengemukakan pendapat dan menyerap materi. Gode-gode menjadi alternatif ruang belajar yang dekat dengan budaya masyarakat kita sekaligus mampu menciptakan suasana akademik yang lebih hidup,” ujarnya.

Menurutnya, mahasiswa Administrasi Pemerintahan Daerah perlu dibiasakan berdiskusi dan menganalisis berbagai persoalan pembangunan secara terbuka. Karena itu, suasana belajar yang fleksibel dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kritis dan komunikasi publik yang sangat dibutuhkan dalam dunia pemerintahan.

Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Pemerintahan dan Hukum Universitas Muslim Buton, Darmin Hasirun,S.Sos.,M.Si menilai pemanfaatan gode-gode sebagai ruang belajar merupakan bentuk nyata integrasi antara pendidikan tinggi dan kearifan lokal masyarakat Buton.

“Kampus tidak boleh tercerabut dari akar budayanya. Gode-gode adalah warisan sosial masyarakat Buton yang sarat nilai kebersamaan, musyawarah, dan saling menghargai pendapat. Ketika budaya ini kita hadirkan dalam proses pembelajaran, mahasiswa tidak hanya memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga belajar nilai-nilai kehidupan yang menjadi identitas daerahnya,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Darmin Hasirun menegaskan bahwa pendidikan tinggi pada hakikatnya bukan hanya proses transfer ilmu, tetapi juga proses pembentukan karakter.

“Kita ingin mahasiswa memahami bahwa ilmu pengetahuan dapat dipelajari di mana saja. Yang paling penting adalah tumbuhnya rasa ingin tahu, semangat berdiskusi, dan kemampuan mencari solusi terhadap persoalan masyarakat. Gode-gode mengajarkan bahwa kebijaksanaan sering lahir dari ruang-ruang sederhana ketika orang-orang mau duduk bersama dan saling mendengarkan,” tambahnya.

Fenomena pembelajaran di gode-gode ini menjadi pengingat bahwa kemajuan pendidikan tidak selalu identik dengan gedung megah atau teknologi canggih. Dalam banyak hal, nilai-nilai lokal justru mampu menghadirkan metode belajar yang lebih dekat dengan kehidupan mahasiswa.

Di tengah arus modernisasi yang terus bergerak cepat, menjaga dan memanfaatkan kearifan lokal menjadi sebuah kebutuhan. Mahasiswa tidak hanya dituntut menjadi generasi yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga generasi yang memahami akar budayanya sendiri.

Gode-gode mengajarkan satu hal penting bahwa ilmu pengetahuan tumbuh melalui dialog, keterbukaan, dan kebersamaan. Dari ruang sederhana itulah lahir pemikiran-pemikiran besar yang kelak akan membawa perubahan bagi masyarakat.

Karena itu, bagi mahasiswa APD, gode-gode bukan sekadar tempat duduk atau berteduh. Ia adalah ruang belajar, ruang bertumbuh, sekaligus ruang merawat identitas budaya Buton agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

Tags:

Bagikan: