FIPH UMU Buton, Rabu, 20 Agustus 2025. Fakultas Ilmu Pemerintahan dan Hukum (FIPH) Universitas Muslim Buton kembali menunjukkan komitmennya dalam memperluas jejaring kerja sama dengan lembaga eksternal. Kali ini, jajaran pimpinan FIPH melakukan audiensi dengan Lembaga Latalombo Urban Lab, sebuah lembaga yang dikenal fokus pada penelitian, pemberdayaan masyarakat, serta pemajuan kebudayaan di wilayah Kepulauan Buton.
Pertemuan ini berlangsung hangat di sekretariat Latalombo Urban Lab, Jalan Wakaka, Kelurahan Nganganaumala, Kecamatan Batu Poaro, Kota Baubau. Dari pihak kampus hadir Dekan FIPH UMU Buton, Darmin Hasirun,S.Sos.,M.Si., Kaprodi Administrasi Pemerintahan Daerah, La Januru,S.I.P.,M.I.P., serta dosen Prodi Peradilan Pidana, Mashendri,S.H.,M.H. Sementara itu, dari pihak Latalombo Urban Lab hadir Ketua Umum, Bung Firman, beserta segenap jajaran pengurus.
Dekan FIPH UMU Buton, Darmin Hasirun, menyampaikan apresiasi atas sambutan yang diberikan oleh pihak Latalombo Urban Lab. Menurutnya, dunia akademik tidak bisa berdiri sendiri tanpa dukungan komunitas, masyarakat, dan lembaga riset independen.
“Kerja sama ini penting karena akademisi tidak mungkin berjalan sendiri untuk mewujudkan visi, misi, dan program kerja. Begitu pula Latalombo Urban Lab akan semakin kuat dengan dukungan berbagai pihak. Saya percaya lembaga ini punya misi mulia yaitu menjaga warisan-warisan budaya lokal melalui riset dan pendampingan masyaraat agar tidak hilang oleh arus modernisasi,” jelas Darmin.
Darmin mencontohkan tradisi Lancau masyarakat Buton yang sudah diwariskan ratusan tahun. Menurutnya, tradisi ini tidak boleh hilang, melainkan harus diteliti, dipahami, dan diwariskan kembali melalui riset yang sistematis. Ia juga menilai bahwa metode penelitian yang digunakan oleh Latalombo Urban Lab, yakni Participatory Action Research (PAR), sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini.
“Yang membuat saya kagum, pendekatan mereka fun, enjoy, dan bebas, tapi tetap menjaga kaidah penelitian: objektif, rasional, empiris, dan sistematis. Ini menjadikan riset terasa dekat dengan masyarakat, bukan hanya milik segelintir akademisi. Justru pendekatan seperti inilah yang bisa membuat mahasiswa tertarik belajar riset,” tambahnya.
Senada dengan pernyataan Dekan, La Januru, S.I.P., M.I.P. dan Mashendri, S.H., M.H. juga menekankan bahwa kerja sama kedua lembaga sangat penting untuk menghadirkan ruang berbagi pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman. Hasil kolaborasi ini diharapkan tidak hanya bermanfaat bagi mahasiswa UMU Buton, tetapi juga bagi masyarakat luas.
“Kerja sama ini akan menjadi jembatan bagi mahasiswa untuk belajar langsung dari pengalaman riset Latalombo Urban Lab. Pada saat yang sama, masyarakat juga bisa mendapatkan manfaat nyata dari hasil riset dan pemberdayaan,” ungkap La Januru.
Dari pihak tuan rumah, Ketua Umum Latalombo Urban Lab, Bung Firman, menyampaikan pandangan serupa. Ia menekankan bahwa lembaga yang dipimpinnya berusaha mematahkan kesan bahwa penelitian adalah sesuatu yang kaku, rumit, dan sulit diakses.
“Kami ingin riset hadir secara sederhana, bisa dipahami, dan bermanfaat langsung bagi masyarakat. Banyak tulisan dan buku yang kami hasilkan dapat dibaca semua kalangan, termasuk akademisi. Saat ini kami sedang merampungkan riset Lancau atau obat tradisional Buton dengan judul buku Ensiklopedia Pengobatan Suku Buton di Kawasan Benteng Keraton Wolio, yang akan segera launching dalam waktu dekat” ujar Firman.
Lebih jauh, Firman juga mengangkat pentingnya melihat situs budaya dari perspektif yang lebih luas. Menurutnya, warisan sejarah bukan hanya peninggalan kerajaan atau simbol kekuasaan, melainkan juga ruang-ruang sosial yang menjadi perekat masyarakat.
Ia mencontohkan Sumur Umum di Kanakea, yang sejak lama menjadi tempat interaksi warga pesisir Kesultanan Buton. Sumur itu tidak hanya berfungsi sebagai sumber air, tetapi juga sebagai sarana memperkuat ikatan sosial.
“Dulu masyarakat di sana saling bertemu, berinteraksi, dan memberikan manfaat satu sama lain. Akibatnya, konflik antarwarga bisa diminimalisasi. Namun sekarang, dengan pola hidup individualistis dan persaingan yang semakin ketat, ikatan itu mulai longgar. Inilah yang membuat kami ingin mengangkat kembali situs-situs lokal yang sebenarnya menyimpan nilai sosial dan budaya penting,” jelas Firman.
Audiensi antara FIPH UMU Buton dan Latalombo Urban Lab ini berlangsung dalam suasana santai namun penuh makna. Kedua pihak sepakat untuk menjalin silaturahmi yang lebih erat serta membangun kerja sama yang berkelanjutan dalam bidang penelitian, pemberdayaan, dan pelestarian budaya lokal.
Pertemuan ditutup dengan sesi foto bersama sebagai simbol lahirnya sinergi baru antara dunia akademisi dan lembaga riset independen di Kota Baubau.
Penulis
Darmin Hasirun




