FIPH Online – Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) yang diselenggarakan Balitbangda Kota Baubau kembali menjadi wadah bergengsi bagi para akademisi muda, khususnya mahasiswa dan pelajar se-Kota Baubau untuk menunjukkan potensi serta kemampuan intelektual mereka dihadapan para dewan juri.
Pada pembukaan kegiatan yang berlangsung di kantor Balitbangda Kota Baubau pukul 09.00 Wita, Jalita Sri Rahayu, mahasiswi Program Studi Peradilan Pidana, Fakultas Ilmu Pemerintahan dan Hukum Universitas Muslim Buton mendapat kesempatan tampil pertama. Mahasiswi semester III yang akrab disapa Jalita ini dikenal teman-temannya sebagai pribadi yang aktif dalam kegiatan literasi, public speaking, serta berbagai aktivitas sosial kemasyarakatan.
Meski mengakui sempat gugup saat tampil perdana, Jalita tetap menunjukkan kepercayaan diri dan komitmen untuk memberi kontribusi nyata melalui gagasan penelitian yang ia susun.
Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) 2025 ini menjadi ajang untuk merancang inovasi dan gagasan bagi daerah. Sebagai mahasiswi Universitas Muslim Buton, saya ingin berkontribusi melalui karya tulis yang dapat direkomendasikan dan bermanfaat bagi pemerintah daerah,” ujarnya.
Jalita dalam presentasinya mengangkat tema “Jelajah Wolio: Trip dan Edukasi Budaya Hingga Alam Kota Baubau”. Ia menyoroti bahwa warisan Kesultanan Buton mulai dari bahasa Wolio, adat istiadat, arsitektur tradisional, hingga praktik budaya lokal merupakan fondasi penting identitas masyarakat Buton khususnya Kota Baubau yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai pusat edukasi dan pariwisata berkelanjutan. Kekayaan situs sejarah, tradisi tenun, ekosistem pesisir, hingga sumber daya etnobotani dinilai sangat mendukung konsep perjalanan edukatif berbasis budaya dan alam.
Jalita juga menekankan masih adanya sejumlah tantangan dalam pengelolaan warisan budaya Buton, seperti keterbatasan kapasitas, kurangnya koordinasi, dan kelemahan promosi. Oleh karena itu, ia menawarkan konsep Jelajah Wolio sebagai model yang mengintegrasikan pengalaman lapangan, modul edukasi budaya, serta pemberdayaan pelaku lokal melalui sinergi antara pemerintah, komunitas, pelaku wisata, dan akademisi.
Penampilan perdana Jalita mendapat perhatian positif dari peserta dan dewan juri. Keikutsertaannya bukan hanya menjadi pengalaman berharga bagi dirinya, tetapi juga menunjukkan semangat generasi muda Baubau untuk terus berkarya, berinovasi, dan berkontribusi bagi kemajuan daerah.




