Baubau, 9 November 2025, Lima mahasiswa Program Studi Administrasi Pemerintahan Daerah, Universitas Muslim Buton menjalani pengalaman tak biasa. Mereka bukan sekadar meneliti, tetapi menyatu dengan realitas sosial sebagai bagian dari praktik Metode Partisipatoris Aksen Riset (Participatory Action Research/PAR) dalam mata kuliah Metode Penelitian yang diampu oleh La Januru, S.IP., M.IP., yang juga menjabat sebagai Kaprodi Administrasi Pemerintahan Daerah.
Selama satu hari penuh, mereka meninggalkan status akademisnya dan menyamar sebagai pemulung di beberapa titik Kota Baubau. Melalui interaksi langsung, para mahasiswa belajar memahami makna kerja keras, ketabahan, dan perjuangan hidup warga sektor informal kelompok yang sering terpinggirkan dari perhatian kebijakan publik.
“Dengan pendekatan PAR, mahasiswa tidak hanya mengamati objek penelitian, tetapi ikut terlibat dalam kehidupan informan. Tujuannya agar mereka memahami realitas sosial bukan hanya dari data, tapi dari nurani,” jelas La Januru.
Menyelami Realitas di Balik Sampah: Belajar dari Pemulung
Kelima mahasiswa yang terlibat masing-masing memainkan peran lapangan dengan fokus mendalam. Mereka adalah Masniar, Wa Ode Ernasari, Dita Sulistiawati, Hasan Muridu, dan Tiara.
Masniar mendampingi Wa Ana (43 tahun), seorang ibu pemulung yang sambil meneteskan air mata menceritakan perjuangan hidupnya. Ia bercerita tentang bagaimana dirinya bertahan dengan penghasilan tak menentu dan rasa malu yang kadang masih menghantui.
“Saya tidak malu jadi pemulung, Nak. Yang penting anak-anak bisa makan,” ucap Wa Ana, dengan nada bergetar.
Cerita serupa datang dari Wa Fina (40 tahun) yang memilih menjadi pemulung setelah bercerai dengan suaminya.
“Awalnya berat, tapi saya harus jalan terus,” katanya lirih, sembari mengumpulkan botol bekas.
Sementara Wa Ode Ernasari mewawancarai Asrun (40 tahun), yang menjadi pemulung setelah putus sekolah karena tidak mampu membeli seragam dan perlengkapan belajar lainya.
“Saya ingin sekolah, tapi waktu itu orang tua tidak punya apa-apa,” ungkapnya.

Yang paling menyentuh hati datang dari kisah Dita Sulistiawati. Ia berhadapan dengan informan atas nama Wa Sari seorang difabel tuna wicara berusia 63 tahun. Pada awalnya, komunikasi berjalan sangat sulit. Namun berkat kesabaran dan kemauan belajar, Dita mulai memahami bahasa isyarat sederhana dari ibu tersebut. Melalui interaksi itu, tumbuh rasa hormat dan empati mendalam terhadap ketabahan sosok perempuan yang berjuang tanpa suara.
Adapun Hasan Muridu berinteraksi dengan seorang bapak 45 tahun yang kehilangan pekerjaan tetap sejak pandemi covid 19 dan akhirnya memilih menjadi pemulung.
“Dulu saya kerja di pelabuhan, tapi sekarang ini satu-satunya cara untuk bertahan hanya menjadi pemulung,” ujarnya dengan senyum yang menyimpan banyak kelelahan.
Dari Lapangan ke Kesadaran Sosial: Refleksi atas Kebijakan Publik
Melalui praktik Participatory Action Research (PAR) ini, para mahasiswa tidak hanya memetik data empiris, tetapi juga belajar tentang ketimpangan kebijakan publik dan lemahnya sistem perlindungan sosial bagi kelompok miskin kota. Sektor informal seperti pemulung terbukti menjadi “penyangga sunyi” ekonomi perkotaan bekerja di luar sistem formal, namun menopang kebersihan dan sirkulasi ekonomi daur ulang.
“Kisah para pemulung ini sesungguhnya adalah potret kecil dari absennya kebijakan inklusif pemerintah. Pemerintah daerah semestinya hadir dengan kebijakan yang memanusiakan, bukan sekadar menertibkan,” ujar La Januru dengan nada reflektif.
Hasil dari kegiatan lapangan ini diharapkan tidak berhenti sebagai laporan akademik, tetapi menjadi bahan kritik konstruktif terhadap arah kebijakan publik daerah, khususnya dalam penataan dan pemberdayaan sektor informal. Mahasiswa diharapkan menyusun analisis yang mengaitkan hasil temuan dengan teori kebijakan publik, ekonomi informal, dan keadilan sosial.
PAR: Mengajarkan Ilmu dengan Nurani
Sebagai sebuah metode penelitian sosial, Participatory Action Research (PAR) menekankan keterlibatan aktif peneliti bersama masyarakat dalam memahami dan mencari solusi atas persoalan yang mereka hadapi. Dalam konteks akademik, PAR mendorong mahasiswa untuk tidak berjarak dari subjek penelitiannya.
“Mahasiswa saya ajak untuk belajar meneliti dengan hati, bukan hanya dengan instrumen. Karena di balik setiap data, ada manusia dan perjuangan hidupnya,” tegas La Januru.
Kegiatan ini juga menumbuhkan kesadaran kritis mahasiswa terhadap realitas sosial lokal. Mereka belajar bahwa kebijakan publik yang baik tidak lahir dari meja rapat, tetapi dari pemahaman mendalam terhadap kehidupan warga yang paling rentan.
Dari Baubau untuk Indonesia: Pendidikan yang Membumi
Langkah inovatif mahasiswa Prodi Administrasi Pemerintahan Daerah Universitas Muslim Buton ini diapresiasi oleh banyak pihak. Pendekatan PAR dipandang mampu mengasah empati akademik, menguatkan kepekaan sosial, dan menumbuhkan jiwa pelayan publik sejati pada mahasiswa.
Sebagai penutup, La Januru menegaskan kembali tujuan utama kegiatan ini:
“Kita ingin mencetak sarjana dan birokrat masa depan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tapi juga peka, peduli, dan punya keberanian moral untuk memperjuangkan masyarakat kecil.” Imbuhnya.
Penulis: La Januru, S.IP., M.IP.



