FIPH Online – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Pemerintahan dan Hukum (FIPH) Universitas Muslim Buton. Jalita Sri Rahayu, mahasiswa Program Studi Peradilan Pidana, berhasil meraih Juara Harapan II dalam Lomba Karya Ilmiah Kota Baubau Tahun 2025 melalui karya berjudul “Jelajah Wolio, Trip dan Edukasi Budaya hingga Alam Kota Baubau”.
Pengumuman hasil lomba berlangsung di Kantor Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Kota Baubau, pada Rabu, 17 Desember 2025, pukul 10.00 WITA. Para peserta hadir secara langsung untuk menyaksikan pembacaan hasil penilaian oleh panitia penyelenggara yang berlangsung dalam suasana penuh ketegangan dan harap.
Ketika namanya diumumkan sebagai peraih Harapan II, Jalita yang akrab disapa Jalita Sri Rahayu mengungkapkan rasa syukur dan kebahagiaannya atas capaian tersebut.
Saya sangat bersyukur atas hasil ini. Meski belum meraih juara utama, penghargaan Harapan II menjadi motivasi besar bagi saya untuk terus belajar dan berkarya, ungkapnya.
Lomba karya ilmiah ini diikuti oleh peserta dari berbagai kalangan, mulai dari siswa SMA sederajat se-Kota Baubau, mahasiswa, hingga peserta umum. Suasana pengumuman pun berlangsung penuh harap, sebagian peserta harus menerima hasil dengan lapang dada, sementara yang lain bersorak gembira atas capaian prestasi yang diraih.
Karya ilmiah yang diusung Jalita dinilai memiliki nilai strategis dan relevansi tinggi terhadap pengembangan daerah. Dalam tulisannya, Jalita menyoroti pentingnya Warisan Kesultanan Buton, seperti bahasa Wolio, adat istiadat, arsitektur tradisional, dan praktik budaya, sebagai fondasi identitas Kota Baubau yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai pusat edukasi dan pariwisata berkelanjutan.
Selain itu, Kota Baubau juga dipaparkan memiliki kekayaan situs sejarah, tenun tradisional, ekosistem pesisir, serta etnobotani yang dapat mendukung konsep perjalanan edukatif berbasis budaya dan alam. Namun demikian, Jalita juga menggarisbawahi berbagai tantangan, seperti keterbatasan kapasitas pengelolaan, kurangnya koordinasi antar pemangku kepentingan, serta promosi yang belum optimal.
Melalui konsep “Jelajah Wolio”, Jalita menawarkan gagasan integratif yang menggabungkan pengalaman lapangan, modul edukasi budaya, dan pemberdayaan pelaku lokal dengan menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, komunitas budaya, pelaku pariwisata, dan kalangan akademisi.
Usai pengumuman, seluruh peserta menerima sertifikat, cenderamata, serta sejumlah hadiah sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi dan prestasi yang telah diraih. Bagi Jalita, capaian ini menjadi langkah awal untuk terus berkontribusi melalui karya ilmiah yang bermanfaat bagi pengembangan daerah dan pelestarian budaya lokal.
Prestasi ini sekaligus menjadi bukti bahwa mahasiswa Program Studi Peradilan Pidana Universitas Muslim Buton tidak hanya unggul dalam bidang akademik hukum tetapi juga mampu menghadirkan gagasan inovatif yang berpihak pada penguatan identitas lokal dan pembangunan berkelanjutan.



