HARI PERTAMA BAKTI SOSIAL DI DESA KAPOA DIAWALI GOTONG ROYONG DAN DIALOG BERSAMA MASYARAKAT

HARI PERTAMA BAKTI SOSIAL DI DESA KAPOA DIAWALI GOTONG ROYONG DAN DIALOG BERSAMA MASYARAKAT

FIPH Online – Bakti Sosial Fakultas Ilmu Pemerintahan dan Hukum (FIPH) Universitas Muslim Buton (UMU Buton) di Desa Kapoa, Kecamatan Kadatua, Kabupaten Buton Selatan, diawali dengan perjalanan sederhana yang menyimpan pesan mendalam tentang arti pengabdian.

Jumat (14/8/2026), sebanyak 13 orang yang terdiri atas empat dosen dan sembilan mahasiswa menyeberangi laut dari Pelabuhan Topa, Kota Baubau, menuju Desa Kapoa. Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, 14–16 Agustus 2026.

Setibanya di Kapoa, rombongan tidak langsung menjalankan kegiatan formal. Rumah yang akan dijadikan posko terlebih dahulu dibenahi karena sejumlah fasilitas belum siap digunakan. Dosen, mahasiswa, dan masyarakat setempat, khususnya ibu-ibu, bergotong royong membersihkan rumah, memperbaiki aliran air, serta menata berbagai perlengkapan hingga tempat tersebut layak ditempati.

Menurut Dekan FIPH UMU Buton, kegiatan tersebut justru memperlihatkan wajah pengabdian yang sesungguhnya.

“Kami tidak ingin mahasiswa datang ke desa hanya sebagai tamu yang membawa sebuah program. Mereka harus belajar hadir sebagai bagian dari masyarakat. Ketika rumah harus dibersihkan, air harus diperbaiki, dan fasilitas harus ditata, di situlah mahasiswa belajar bahwa pengabdian membutuhkan kepedulian, kerja sama, dan kesediaan untuk turun langsung.”

Dekan menilai, interaksi langsung dengan masyarakat merupakan bagian penting dari proses pendidikan mahasiswa.

“Kampus tidak boleh hanya menjadi ruang belajar di dalam kelas. Desa juga merupakan ruang pembelajaran yang sangat kaya. Di sana mahasiswa dapat melihat secara langsung persoalan masyarakat, merasakan kehidupan warga, dan belajar bagaimana pemerintahan serta pembangunan seharusnya hadir menjawab kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Setelah membersihkan posko, rombongan melaksanakan salat Jumat di masjid desa. Air wudu yang jernih dan tawar menjadi pengalaman tersendiri di tengah perjalanan. Setelah itu, rombongan menikmati makan siang sederhana berupa nasi, mie goreng, dan ikan parende.

Bagi Ketua Program Studi Administrasi Pemerintahan Daerah, pengalaman sederhana tersebut justru memiliki nilai pendidikan yang kuat.

“Kami ingin mahasiswa memahami bahwa masyarakat bukan objek kegiatan, tetapi subjek pembangunan. Karena itu, sejak awal kami mendorong mahasiswa untuk berinteraksi, mendengar, dan bekerja bersama masyarakat. Dari hal-hal sederhana seperti membersihkan lingkungan, menyiapkan makanan, hingga berdiskusi dengan pemerintah desa, mereka belajar tentang praktik pemerintahan yang sesungguhnya.”

Menurutnya, kegiatan Bakti Sosial juga menjadi kesempatan untuk menghubungkan pengetahuan akademik dengan realitas pemerintahan di tingkat desa.

“Apa yang dipelajari mahasiswa di kelas tentang pelayanan publik, pemberdayaan masyarakat, pemerintahan desa, dan pembangunan daerah harus memiliki hubungan dengan realitas di lapangan. Desa Kapoa memberikan ruang bagi mahasiswa untuk melihat bahwa setiap kebijakan pada akhirnya harus bermuara pada kebutuhan dan kepentingan masyarakat,” katanya.

Usai makan siang, rombongan bertemu Kepala Desa Kapoa untuk membicarakan agenda kegiatan selama dua hari berikutnya. Pertemuan berlangsung dalam suasana santai namun menghasilkan sejumlah kesepakatan penting.

Sabtu pagi dijadwalkan seminar desa mengenai persoalan kelistrikan. Pada Sabtu sore, rombongan bersama masyarakat akan melakukan pembersihan di sekitar jembatan penyeberangan Desa Kapoa. Sementara Minggu pagi direncanakan kegiatan pembersihan di lokasi pipa air yang digunakan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan air minum.

Kepala Desa juga memberikan suguhan makanan dan minuman serta bantuan beras sebanyak lima kilogram untuk kebutuhan posko.

Bagi Dekan FIPH, sambutan tersebut menunjukkan bahwa pengabdian merupakan proses timbal balik antara perguruan tinggi dan masyarakat.

“Kami datang membawa pengetahuan dan program, tetapi masyarakat juga memberikan sesuatu yang sangat berharga kepada kami, yaitu pengalaman, keramahan, dan pengetahuan tentang kehidupan mereka. Karena itu, pengabdian bukan hubungan satu arah. Perguruan tinggi belajar dari masyarakat, dan masyarakat memperoleh manfaat dari kehadiran perguruan tinggi.”

Sementara itu, Ketua Program Studi Administrasi Pemerintahan Daerah menekankan pentingnya keberlanjutan dari setiap kegiatan pengabdian.

“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti pada tiga hari pelaksanaan. Yang lebih penting adalah nilai yang dibawa pulang oleh mahasiswa. Mereka harus mampu menjadikan pengalaman di Desa Kapoa sebagai pembelajaran untuk menjadi aparatur atau administrator pemerintahan yang peka terhadap persoalan masyarakat dan mampu bekerja secara kolaboratif.”

Menjelang sore, sebagian rombongan kembali ke Kota Baubau karena harus memenuhi tanggung jawab akademik berupa seminar proposal mahasiswa Program Studi Administrasi Pemerintahan Daerah. Sekitar pukul 16.20 Wita, rombongan tiba di Pelabuhan Topa dan perjalanan dilanjutkan menuju kampus.

Bagi FIPH UMU Buton, rangkaian tersebut menjadi gambaran bahwa pengabdian kepada masyarakat dan tugas akademik tidak harus berjalan sendiri-sendiri.

Keduanya justru dapat saling memperkuat.

Dekan FIPH menegaskan bahwa pengalaman lapangan harus menjadi bagian dari pembentukan karakter mahasiswa.

“Kami ingin mahasiswa tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial. Seorang lulusan ilmu pemerintahan harus mampu memahami manusia dan persoalannya. Karena itu, pengalaman bersama masyarakat seperti ini sangat penting dalam membentuk karakter mereka.”

Ketua Program Studi Administrasi Pemerintahan Daerah menambahkan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya mendekatkan mahasiswa dengan realitas pemerintahan dan masyarakat.

“Administrasi pemerintahan pada akhirnya berbicara tentang bagaimana negara hadir dalam kehidupan masyarakat. Ketika mahasiswa berada di tengah masyarakat, mereka dapat melihat langsung kebutuhan, persoalan, potensi, dan harapan warga. Itulah pembelajaran yang tidak selalu bisa diperoleh hanya melalui ruang kelas.”

Hari pertama Bakti Sosial FIPH UMU Buton di Desa Kapoa akhirnya tidak hanya menjadi catatan perjalanan dari Baubau menuju Kadatua dan kembali lagi ke Baubau.

Lebih dari itu, perjalanan tersebut menjadi pengingat bahwa pengabdian dapat dimulai dari hal-hal sederhana: membersihkan rumah, memperbaiki aliran air, berbagi makanan, duduk bersama pemerintah desa, dan mendengarkan suara masyarakat.

FIPH UMU Buton hadir bukan sekadar membawa program, tetapi berupaya membangun hubungan yang lebih bermakna dengan masyarakat.

Mendengar sebelum berbicara. Memahami sebelum bertindak. Dan bekerja bersama sebelum menyatakan telah mengabdi.

Jumat, 14 Agustus 2026, menjadi halaman pertama. Dua hari berikutnya masih menyimpan agenda dan cerita lain yang akan mempertemukan mahasiswa, dosen, pemerintah desa, dan masyarakat dalam semangat yang sama: belajar, bekerja, dan mengabdi bersama.

Tags:

Bagikan: