FIPH Online – Pemerintah Kota Baubau melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) kembali menggelar Lomba Karya Ilmiah Tahun 2025 pada Minggu–Senin, 7–8 Desember 2025. Kegiatan yang diselenggarakan di Kantor Balitbangda sejak pukul 09.00 Wita hingga selesai ini diikuti oleh para pelajar dan mahasiswa se-Kota Baubau yang hadir untuk menyajikan hasil penelitian terbaik mereka.
Salah satu peserta yang menarik perhatian adalah Suci Amarullah Al Razak, mahasiswi semester I Program Studi Administrasi Pemerintahan Daerah, Fakultas Ilmu Pemerintahan dan Hukum Universitas Muslim Buton. Akrab disapa Suci, mahasiswi ini tampil sebagai peserta kedua dan berhasil menunjukkan performa maksimal baik dalam sesi presentasi maupun tanya jawab. Cara penyampaian yang tenang, sistematis, dan komunikatif membuat dewan juri memberikan apresiasi atas kualitas penampilannya.
Pada kompetisi tersebut, Suci mengangkat penelitian berjudul “Pemanfaatan Eduwisata Benteng Keraton Wolio Sebagai Sumber Pembelajaran Nilai Budaya Kesultanan Buton Bagi Pelajar di Kota Baubau.” Penelitian ini berlandaskan potensi besar Benteng Keraton Wolio warisan Kesultanan Buton yang juga tercatat sebagai benteng terluas di dunia versi Guinness World Records (2016). Benteng bersejarah ini memuat nilai sejarah, sistem pemerintahan tradisional, hukum adat, serta moralitas Sara Patanguna yang mencakup pomaa-maasiaka, poangka-angkataka, pomae-maeaka, dan popia-piara.
Meski demikian, Suci turut menemukan beberapa persoalan di lapangan seperti kunjungan pelajar yang masih bersifat rekreasional dan belum diarahkan pada pembelajaran. Selain itu, kurikulum sekolah belum memuat materi khusus mengenai Benteng Keraton Wolio, serta belum tersedia model eduwisata berbasis kearifan lokal dan sejarah Buton yang dapat dimanfaatkan secara sistematis.
Pada wawancara bersama Suci mengungkapkan rasa syukurnya setelah tampil di hadapan dewan juri. “Alhamdulillah saya sudah tampil dan mendapatkan apresiasi dari tiga orang dewan juri. Rasa gugup hampir tidak ada karena di dalam ruangan hanya ada dewan juri, panitia, dan saya sebagai peserta. Jadi saya bisa tetap tenang dan tampil maksimal,” ujarnya.
Melalui penelitiannya, Suci memberikan sejumlah rekomendasi. Ia mendorong Pemerintah Kota Baubau melalui Dinas Pendidikan untuk memasukkan materi Benteng Keraton Wolio sebagai mata pelajaran muatan lokal yang dilengkapi modul pembelajaran. Selain itu, ia menilai perlunya peningkatan fasilitas pendukung eduwisata seperti papan informasi, ruang belajar terbuka, pemandu budaya khusus pelajar, serta paket wisata edukatif yang terstruktur.
Menurut Suci, langkah-langkah tersebut akan memperkuat peran Benteng Keraton Wolio tidak hanya sebagai objek wisata sejarah, tetapi juga sebagai pusat pembelajaran budaya yang mampu menanamkan nilai-nilai kearifan lokal bagi generasi muda di Kota Baubau.
Penampilan Suci dalam kompetisi ini menjadi bukti bahwa mahasiswa baru pun memiliki potensi besar untuk tampil percaya diri, berpikir kritis, dan berkontribusi melalui karya ilmiah. Semangat dan dedikasinya diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi peserta lainnya dalam upaya pelestarian budaya lokal.



