FIPH Online – Fakultas Ilmu Pemerintahan dan Hukum (FIPH) Universitas Muslim Buton (UMU Buton) kembali menunjukkan eksistensinya sebagai ruang akademik yang tak hanya menumbuhkan daya pikir ilmiah, tetapi juga menghidupkan semangat pelestarian budaya lokal. Kali ini, FIPH menghadirkan Latalombo Urban Lab dalam kegiatan Bedah Buku “Esaiklopedia Lancau Wolio”, sebuah karya yang menggugah kesadaran tentang pentingnya memahami kearifan lokal sebagai kekuatan identitas dan pengetahuan sosial masyarakat Buton.
Acara yang digelar di Aula Kampus UMU Buton ini berlangsung hangat, sarat makna, dan dihadiri oleh civitas akademika, peneliti muda, serta mahasiswa dari berbagai program studi. Melalui kegiatan ini, FIPH berupaya memperkuat peran perguruan tinggi sebagai penjaga nilai budaya lokal yang selaras dengan pengembangan ilmu pengetahuan modern. (13/10/2025, pukul 09.00-11.00 Wita).

Buku Esaiklopedia Lancau Wolio tidak sekadar membahas tentang ramuan tradisional. Lebih dari itu, ia menjadi jendela etnografi yang menyingkap makna mendalam di balik praktik pengobatan tradisional masyarakat Wolio. “Lancau” dalam bahasa Wolio berarti obat, sementara “Wolio” adalah kawasan yang menjadi pusat peradaban Kesultanan Buton pada masanya. Secara harfiah, Lancau Wolio bermakna obat dari tanah Wolio, namun dalam tataran filosofis, ia mencerminkan harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas.
Obat tradisional dalam konteks ini bukan hanya sekadar ramuan dari tumbuhan sekitar, pijat refleksi, atau doa-doa penyembuhan, melainkan sebuah simbol sosial yang menyatukan masyarakat dalam semangat gotong royong, kebersamaan, dan kesadaran ekologis. Di dalamnya hidup nilai-nilai antropologis dan sosial yang merekatkan tatanan kehidupan masyarakat Buton sejak masa lampau.
Dalam kegiatan ini, FIPH UMU Buton bekerja sama dengan Latalombo Urban Lab, lembaga riset lokal yang selama ini dikenal konsisten meneliti budaya dan praktik sosial masyarakat Buton. Kolaborasi ini menjadi langkah strategis dalam mengintegrasikan riset budaya ke dalam dunia akademik agar tradisi tidak hanya dikenang, tetapi dikaji dan diwariskan dengan dasar ilmiah.
Hal menarik lainnya, salah satu penulis Esaiklopedia Lancau Wolio merupakan mahasiswa aktif UMU Buton, Shelvy Mulyana Hasanah, dari Program Studi Agroteknologi semester 5. Kehadirannya sebagai bagian dari tim penulis menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk berani berkarya, menulis, dan menyuarakan identitas lokal melalui literasi.
Dekan FIPH UMU Buton, Darmin Hasirun, S.Sos., M.Si., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi mendalam kepada para penulis buku dan pihak Latalombo Urban Lab.
“Saya sangat mengapresiasi para penulis muda yang mewakili generasi Z. Ini menjadi motivasi bagi mahasiswa UMU Buton untuk berani mengambil langkah dan membuat terobosan, salah satunya dengan menulis buku. Lancau Wolio bukan sekadar tentang obat, tapi tentang bagaimana manusia Buton membangun relasi sosial yang penuh kasih, saling membantu, dan hidup selaras dengan alam,” ujarnya.
Darmin juga menegaskan bahwa buku ini dapat dipahami sebagai pendekatan etnografi yang merekam nilai-nilai ekologis dan spiritual masyarakat Wolio.
“Manusia adalah bagian dari alam. Jika alam rusak, maka rusak pula kehidupan manusia. Di balik semua itu, manusia diberi mandat oleh Tuhan untuk menjaga alam agar tetap memberikan manfaat bagi seluruh makhluk,” tambahnya dengan penuh makna.
Ketua Latalombo Urban Lab, Firman Ali, turut menyampaikan rasa terima kasihnya kepada UMU Buton atas kepercayaan dan kerja sama yang terjalin.
“Kami sangat berterima kasih kepada Universitas Muslim Buton yang telah mengundang kami dalam acara bedah buku ini. UMU Buton menjadi kampus pertama yang cepat merespon dan membuka ruang akademik bagi kami untuk berdialog tentang budaya lokal,” ungkapnya.
Kerja sama ini diharapkan menjadi awal dari kolaborasi riset jangka panjang antara perguruan tinggi dan lembaga riset lokal dalam mengembangkan kajian budaya, sosial, dan identitas masyarakat Buton secara ilmiah dan berkelanjutan.
Salah satu penulis buku, Al Yasin, menjelaskan bahwa Lancau Wolio tidak hanya berfungsi sebagai obat penyembuh secara fisik, tetapi juga mengandung nilai-nilai sosial yang memperkuat solidaritas masyarakat.
“Bagi kami, Lancau Wolio adalah simbol kebersamaan dan saling membantu. Bahkan banyak unsur pengobatan tradisional kita yang kini telah menjadi bahan kajian dalam ilmu kedokteran modern,” jelasnya.
Sementara itu, Alzein Rama Destafa, penulis lainnya, menambahkan bahwa pengobatan tradisional dan modern bukanlah dua hal yang saling bertentangan.
“Obat tradisional dan obat modern itu saling melengkapi. Di dalam Lancau Wolio, kami melihat bagaimana pengetahuan lokal dan ilmu pengetahuan modern bisa berjalan berdampingan,” tuturnya.
Kegiatan bedah buku ini tidak hanya menjadi forum diskusi intelektual, tetapi juga wadah refleksi bagi mahasiswa dan dosen untuk melihat kembali peran mereka sebagai penjaga nilai-nilai kearifan lokal. Dalam era globalisasi yang serba cepat, pemahaman terhadap budaya sendiri menjadi bentuk ketahanan identitas dan kebanggaan sebagai masyarakat Buton.
Dengan menghadirkan Latalombo Urban Lab, FIPH UMU Buton tidak hanya menggelar sebuah kegiatan akademik, tetapi juga menyalakan kembali semangat local wisdom di tengah kampus yang menjadikan budaya sebagai sumber pengetahuan, bukan sekadar warisan yang dilestarikan, tetapi juga dipelajari, dikembangkan, dan dimaknai ulang bagi masa depan generasi Buton.



