FIPH Online – Suasana pagi di Desa Lampanairi, Kecamatan Batauga, Kabupaten Buton Selatan, terasa teduh dan bersahaja ketika rombongan mahasiswa Fakultas Ilmu Pemerintahan dan Hukum Universitas Muslim Buton tiba di kantor desa pada Sabtu, 4 Oktober 2025. Angin lembut yang berhembus dari perbukitan sekitar, berpadu dengan keramahan pemerintah setempat menjadi sambutan hangat bagi para mahasiswa yang tengah menapaki tugas baru dalam perjalanan akademiknya yaitu praktikum lapangan Administrasi Pemerintah Desa.
Praktikum lapangan ini bukan sekadar kegiatan rutin akademik, melainkan bagian dari proses pembelajaran yang mendekatkan teori dengan kenyataan, antara pengetahuan dan pengabdian. Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mempelajari pemerintahan desa dijalankan tetapi juga menyelami denyut kehidupan pemerintahan yang menjadi inti dalam menata masyarakat desa itu sendiri.
Kegiatan praktikum dibagi menjadi tiga tahapan utama yang berlangsung sejak pukul 09.30 hingga 12.30 WITA.
Tahapan pertama dimulai di Aula Kantor Desa Lampanairi dengan sesi pembawaan materi dan diskusi interaktif tentang tata kelola pemerintahan desa oleh Kepala Desa Lampanairi, La Ode Syarifuddin. Dalam suasana penuh keakraban dan semangat belajar, beliau menjelaskan secara gamblang tentang pengalaman dan pengetahuan pemerintahan selama memimpin desa dari tahun 2019 sampai sekarang yang menjadi perjalanan penuh tantangan dan berkesan. Mahasiswa tampak antusias bertanya dan mencatat setiap penjelasan yang disampaikan.
Tahapan kedua berlangsung di ruang pelayanan administrasi desa, di mana para mahasiswa berkesempatan menyaksikan secara langsung proses pelayanan publik seperti pengurusan KTP, Kartu Keluarga, Buku Nikah, dan administrasi kependudukan lainnya. Para perangkat desa dengan sabar memperlihatkan setiap tahapan pelayanan, mulai dari penerimaan berkas hingga penyerahan dokumen akhir. Dari ruang sederhana itu, mahasiswa belajar tentang arti pelayanan publik yang jujur dan tulus, tanpa pungutan biaya.
Kepala Desa menuturkan dengan nada tegas namun bersahaja, “Selama saya menjabat, tidak ada pungutan biaya administrasi sedikit pun. Bahkan ketika ada warga yang menitipkan uang sebagai tanda terima kasih, uang itu kami kembalikan. Prinsip saya sederhana yaitu pelayanan adalah tanggung jawab, bukan ladang keuntungan.” Nilai kejujuran dan profesionalisme yang beliau tanamkan menjadi teladan penting bagi para mahasiswa calon birokrat masa depan.
Selanjutnya, tahapan ketiga membawa para mahasiswa meninjau lokasi produksi tepung mocaf (Modified Cassava Flour), hasil inovasi ekonomi kreatif pemerintah desa. Produk ini telah melalui tahap uji coba dan tinggal menunggu proses legalisasi di Balai POM. Kepala Desa menjelaskan bahwa bila izin tersebut telah rampung, produksi mocaf akan dikembangkan secara massal guna meningkatkan ekonomi desa dan membuka lapangan kerja baru bagi warga Lampanairi.
Selain aktif dalam pelayanan publik dan inovasi ekonomi, Desa Lampanairi juga dikenal sebagai desa berprestasi dan inspiratif. Desa ini pernah dinobatkan sebagai Desa BRILian yaitu program pemberdayaan desa oleh BRI yang berfokus pada penguatan BUMDes, inovasi desa, digitalisasi, dan keberlanjutan. Tak hanya itu, Lampanairi memiliki website resmi (https://lampanairi.geodesa.id/) yang menjadi pusat informasi dan transparansi data desa.
Pada tahun 2024, Pemerintah Desa Lampanairi menerima penghargaan Desa Cinta Statistik (Desa Cantik) dari BPS, sebagai salah satu dari 502 desa terpilih di seluruh Indonesia yang dinilai mampu mengembangkan sistem data dan informasi berbasis statistik.
Lebih dari itu, Lampanairi kini juga dikenal sebagai Desa Wisata yang diakui oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI serta Dewisnu Foundation, dengan potensi wisata unggulan Pantai Jodoh yang telah masuk dalam laman resmi https://jadesta.kemenparekraf.go.id/desa/pantai_jodoh. Keindahan alam, kearifan lokal, serta keramahan warganya menjadikan desa ini destinasi wisata lokal, nasional, bahkan internasional.
Tak berhenti di situ, pada tahun 2023, Desa Lampanairi ditetapkan pula sebagai Kampung Keluarga Berkualitas (Kampung KB) oleh BKKBN sebagai bentuk komitmen desa dalam membangun sinergi antarwarga untuk mewujudkan keluarga yang sehat, harmonis, dan berdaya.
Kegiatan praktikum ini turut didampingi oleh Dosen Pembina Mata Kuliah, Bapak Darmin Hasirun, S.Sos., M.Si, yang dengan penuh dedikasi memfasilitasi mahasiswa selama kegiatan berlangsung. Dalam arahannya, beliau menyampaikan bahwa pembelajaran lapangan seperti ini merupakan sarana penting untuk membangun pengetahuan, pengalaman, dan kecakapan administrasi pemerintahan yang nyata.
“Mahasiswa tidak hanya belajar mengelola administrasi, tetapi juga belajar menjadi pelayan masyarakat yang berintegritas dan berempati,” ujar beliau dalam kegiatan ini.
Di siang harinya, kegiatan praktikum pun berakhir dan mahasiswa menyempatkan berkunjung di Pantai Jodoh untuk mengisi waktu istrahat dan makan siang bersama. Meskipun kegiatan praktikum ini telah setesai, namun kesan mendalam dari pengalaman itu tetap tertinggal di hati para mahasiswa. Di tengah kehidupan desa yang tenang, mereka belajar bahwa pemerintahan bukan sekadar urusan administrasi, melainkan juga tentang keikhlasan, ketulusan, dan tanggung jawab dalam melayani masyarakat.
Desa Lampanairi hari itu menjadi laboratorium nyata bagi generasi muda sebagai tempat di mana ilmu pengetahuan berpadu dengan nilai-nilai kemanusiaan, dan di mana masa depan pemerintahan yang bersih dan berkeadilan mulai tumbuh dari akar yang paling sederhana yaitu desa.



