Bau menyengat dari tumpukan sampah bercampur plastik jadi teman baru bagi lima mahasiswa Universitas Muslim Buton. Dengan pakaian seadanya, mereka berjalan pelan mengikuti langkah para pemulung yang sibuk mencari barang bekas bernilai jual. Hari itu, mereka bukan mahasiswa yang membawa buku catatan dan alat tulis. Mereka mencoba hidup sehari sebagai pemulung bagian dari penelitian lapangan menggunakan metode Partisipatoris Aksi Riset (PAR). Mereka adalah Masniar, Wa Ode Ernasari, Dita Sulistiyawati, Hasan Muridu, dan Tiara. Ke lima mahasiswa Program Studi Administrasi Pemerintahan Daerah yang tengah menerapkan metode Participatory Action Research (PAR) dalam mata kuliah Metode Penelitian.
Metode ini bukan sekadar turun lapangan, tapi benar-benar menyatu dengan subjek penelitian merasakan, mendengar, dan memahami denyut hidup kelompok marjinal, pada kesempatan kali ini, yang akan dibidik adalah para pemulung di Kota Baubau.
Masniar mengawali langkahnya dengan satu perempuan paruh baya yang setiap hari memungut botol bekas di tepi jalan. Di balik tumpukan karung, tersimpan cerita tentang keteguhan hidup dan air mata.

“Saya ikut mereka berjalan dulu, baru bicara. Rasanya berat, tapi saya ingin mereka tahu bahwa saya datang untuk memahami, bukan menghakimi,” kata Masniar.
Di sela-sela kegiatan, kedua ibu itu bercerita tentang perjuangan mereka dalam membesarkan anak-anak mereka dari hasil menjual plastik kiloan. Salah satu dari mereka sempat menyebut istilah “harta karun” sambil tertawa kecil satu istilah yang sering digunakan para pemulung saat menemukan barang bekas yang masih layak jual.
Istilah ini tergolong unik dan baru bagi Masniar, ia yang baru pertama kali mendengar istilah itu, sempat bingung dan hampir ikut tertawa. Namun ia cepat mengingat kembali tujuan penelitiannya. Ia menahan diri agar tidak mengubah suasana keakraban yang sedang terbangun.
Air mata kedua ibu itu kemudian menetes pelan saat bercerita tentang masa lalu tentang harapan yang pelan-pelan terkubur bersama waktu.
Masniar menunduk, menahan haru, sambil terus manatap wajah ibu tersebut sembari mengumpulkan botol bekas di tangannya. Tak sadar Masniar turut terbawah suasana, air matanya menetes pelan membasahi pipinya, menghayati cerita ibu paruh baya yang menceritakan kisah hidupnya yang penuh derita.
Sementara itu, Wa Ode Ernasari mendekati seorang pria bernama Asrun berusia 20 tahun yang telah belasan tahun menjadi pemulung, sempat sekolah di SMP tetapi berhenti lantaran tidak mampu membeli perlengkapan sekolah. Dari balik karung kecil di gerobaknya, terselip cerita tentang keteguhan hati.

“Kalau saya berhenti, siapa lagi yang akan memberi makan keluarga saya, dulu saya pernah sekolah tetapi berhenti karena orang tua tidak mampu” ujarnya dengan suara serak.
Wa Ode menuturkan, pengalaman itu membuka mata hati-nya tentang makna ketahanan sosial warga miskin kota.
“Saya baru paham, ternyata kemiskinan itu bukan sekadar angka statistik. Ia punya wajah, punya suara, dan sering kali, suaranya tidak didengar.” Gumam sosok yang dikenal Kawan-kawanya sebagai pribadi yang pendiam ini.
Di lokasi lain, Hasan Muridu berusaha berbincang dengan seorang bapak berusia 45 tahun. Dulu, ia seorang buruh pelabuhan. Tapi sejak pandemi Covid-19 melumpuhkan sektor tenaga kerja, ia kehilangan pekerjaan tetap.

“Saya dulu kerja angkut semen di pelabuhan. Tapi setelah Covid, banyak yang dipecat. Sekarang ya begini saja,” katanya sambil tersenyum getir.
“Daripada nganggur, lebih baik memulung. Setidaknya bisa bawa pulang uang buat makan.”
Hasan menatap bapak itu lama, ia menyadari bahwa di wajah bapak tua itu, ia melihat cermin kebijakan publik yang tidak berpihak.
“Saya merasa seperti sedang membaca pasal demi pasal kebijakan yang gagal… tapi kali ini bukan di buku, melainkan di wajah manusia,” ucap Hasan kemudian.
Bagian yang paling mengharukan datang dari Dita Sulistiyawati. Ia berhadapan dengan seorang ibu berusia lanjut 60 tahun bernama Wa sari yang juga difabel, tuna wicara. Komunikasi sempat terhenti di awal tak ada suara, hanya gerak tangan yang samar.

“Saya sempat ingin menyerah,” ujar Dita, “tapi kemudian saya sadar, tugas saya bukan sekadar bertanya, tapi memahami.”
Perlahan, Dita belajar mengenali bahasa isyarat sederhana. Ia mengikuti gerak bibir dan tangan ibu itu, mencoba menebak maksud di balik setiap gerakan. Hingga akhirnya, sebuah komunikasi lembut terjalin tanpa kata, tapi sarat makna.
“Dari ibu itu saya belajar tentang kesabaran, tentang bahasa hati yang tidak perlu suara,” tutur Dita, matanya basah.
Dikesempat lain juga ada Tiara, ia mahasiswa termuda di kelompok itu, mewawancarai seorang ibu yang memilih memulung untuk sekadar menyambung hidup. Tiara sempat kaget saat mengetahui penghasilan sang ibu bahkan tak cukup untuk membeli beras setiap harinya.

“Saya kerja karena harus. Kalau tidak, keluarga saya tidak makan,” kata ibu itu singkat.
Tiara hanya bisa berkata, “Bu, kita kuat sekali.”
Dalam catatan refleksinya, Tiara menulis:
“Kekuatan mereka bukan pada tubuhnya, tapi pada tekad yang tidak pernah menyerah. Saya belajar, menjadi kuat bukan berarti tak lelah, tapi tetap berjalan meski lelah.”
Metode Participatory Action Research (PAR) yang coba diterapkan La Januru, S.IP., M.IP., memang dirancang bukan untuk menghasilkan data kering, tapi untuk menghidupkan kesadaran kritis mahasiswa.

“Mahasiswa saya ajak turun bukan untuk meneliti dari jauh, tapi untuk ikut hidup dalam realitas sosial itu,” ujar La Januru.
“Dengan begitu, mereka belajar bahwa kebijakan publik yang adil hanya bisa lahir dari empati.”
Dari pengalaman sehari bersama para pemulung, para mahasiswa tidak hanya memperoleh data, tetapi juga kesadaran sosial bahwa sektor informal adalah bagian penting dari denyut ekonomi kota, namun masih hidup di pinggiran perhatian kebijakan.
Saat senja tiba, kelima mahasiswa itu duduk bersama para pemulung di tepi jalan. Tangan mereka kotor, baju mereka berdebu, tapi mata mereka berkilat oleh pemahaman baru: bahwa ilmu tidak hanya hidup di ruang kuliah, tapi juga di lorong-lorong sunyi tempat manusia berjuang mempertahankan martabatnya.
“Kami datang sebagai peneliti,” kata Masniar pelan, “tapi pulang sebagai manusia yang lebih mengerti arti kemanusiaan.”
Di antara sisa sampah plastik dan cerita hidup yang getir, lahir kesadaran baru: bahwa penelitian bukan sekadar metode ilmiah, tapi juga jalan untuk memahami dan mungkin, menyembuhkan luka sosial yang dibiarkan kebijakan.
Reporter: Tim Akademik Prodi Administrasi Pemerintahan Daerah
Editor Naskah: La Januru, S.IP., M.IP.
