id
en
ar

Dekan dan Dosen FIPH Hadiri Launching Buku “Lancau Wolio”

FIPH Online – Suasana hangat penuh semangat kebudayaan mewarnai peluncuran buku “Lancau Wolio di Rumah Pua”, sebuah karya penelitian tentang pengobatan tradisional Suku Buton di kawasan Benteng Keraton Wolio. Acara ini digelar oleh Latalombo Urban Lab dan mendapat apresiasi penuh dari segenap dosen Fakultas Ilmu Pemerintahan dan Hukum (FIPH) Universitas Muslim Buton (UMU Buton).

Kegiatan ini bukan sekadar peluncuran buku, melainkan juga ikhtiar menjaga pengetahuan lokal dan tradisi pengobatan Buton agar tetap hidup di tengah masyarakat. Buku ini hadir sebagai ruang refleksi bersama, untuk meneguhkan nilai-nilai sosial budaya sekaligus membumikan kembali praktik pengobatan tradisional yang telah diwariskan turun-temurun.

Acara peluncuran berlangsung di Kafe Sija X Garpu Kitchen, Jalan Dr. Wahidin, Kelurahan Lamangga, Kota Baubau pada Rabu, 1 Oktober 2025, mulai pukul 16.00 hingga 23.00 WITA. Hadir dalam kesempatan ini Dekan FIPH UMU Buton, Darmin Hasirun, S.Sos., M.Si., didampingi Kaprodi Administrasi Pemerintahan Daerah, La Januru, S.I.P., M.I.P., serta dosen-dosen lingkup FIPH. Turut hadir mahasiswa UMU Buton, perwakilan LSM, komunitas literasi, hingga insan media.

Dekan FIPH, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi mendalam kepada tim penulis dan pengurus Latalombo Urban Lab:
“Saya memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada Latalombo yang dengan tekun selama tiga bulan menelusuri hutan, kampung, dan berinteraksi dengan para narasumber demi menghadirkan buku ini. Istimewanya, penulisnya adalah anak-anak muda dari berbagai latar belakang. Selama ini kita kerap melihat kecintaan pada budaya lokal lebih banyak ditopang oleh generasi tua. Namun malam ini kita menyaksikan anak muda mengambil peran besar merawat budaya. Tentu kita tidak sedang mempertemukan pengobatan tradisional dan kimia sebagai sesuatu yang bertentangan, melainkan melihat keduanya sebagai pendekatan yang saling melengkapi kebutuhan masyarakat.”

Sementara itu, Ketua Latalombo Urban Lab, Firman, menegaskan bahwa Latalombo hadir sebagai ruang kolektif belajar bersama tanpa hierarki kaku.
“Kami berkomitmen untuk mengaktivasi pengetahuan warga, membicarakannya, dan menjadikannya penting di arus utama kehidupan masyarakat Kota Baubau. Latalombo adalah wadah belajar praktikal yang dibangun dari komitmen personal, bukan struktur formal.”

Pengalaman penulisan buku ini juga menjadi kisah menarik tersendiri bagi para penulis muda. Selfi, mahasiswa UMU Buton sekaligus salah satu penulis, mengungkapkan tantangan sekaligus pelajaran berharga ketika harus berinteraksi dengan para informan:
“Awalnya sulit, karena kami harus bercakap dengan orang-orang baru yang tidak pernah kami kenal sebelumnya. Salah satu narasumber bahkan tampilannya sama sekali tidak seperti seorang dukun atau bhisa, namun ternyata beliau adalah penjaga hutan dan alam yang hidupnya bergantung penuh pada apa yang alam berikan. Dari situ saya belajar banyak hal, bukan hanya soal Lancau Wolio, tetapi juga tentang cara pandang masyarakat Buton dalam memaknai hubungan dengan alam.”

Peluncuran buku “Lancau Wolio” menjadi momentum penting, tidak hanya bagi dunia akademik UMU Buton, tetapi juga sebagai pengingat bahwa pengetahuan lokal adalah harta karun kebudayaan yang perlu terus dijaga, dirawat, dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Tags:

Bagikan: