BINCANG AKADEMIK DAN NON-AKADEMIK UMU BUTON: EMPAT DEKAN SATUKAN GAGASAN PERKUAT MUTU, KEBERSAMAAN, DAN BUDAYA KAMPUS

BINCANG AKADEMIK DAN NON-AKADEMIK UMU BUTON: EMPAT DEKAN SATUKAN GAGASAN PERKUAT MUTU, KEBERSAMAAN, DAN BUDAYA KAMPUS

UMU Online — Universitas Muslim Buton (UMU Buton) terus memperkuat komitmen untuk membangun budaya akademik yang bermutu, profesional, terbuka, dan berorientasi pada kemajuan institusi. Semangat tersebut mengemuka dalam kegiatan Bincang Akademik dan Non-Akademik yang berlangsung pada Kamis, 20 Agustus 2026, pukul 14.00–16.00 WITA, bertempat di Aula Universitas Muslim Buton.

Kegiatan ini diikuti oleh unsur pimpinan universitas, para dosen, dan tenaga kependidikan/tata usaha dari lingkungan UMU Buton. Forum tersebut menjadi ruang strategis untuk mempertemukan gagasan, menyampaikan pandangan, serta membangun kesamaan persepsi mengenai penguatan kualitas akademik sekaligus menciptakan lingkungan kerja yang harmonis dan produktif.

Bincang tersebut menghadirkan empat narasumber dari unsur pimpinan fakultas, yakni Dekan Fakultas Ilmu Pemerintahan dan Hukum (FIPH), Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Dekan Fakultas Pertanian dan Peternakan (FAPERTA), serta Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP).

Kehadiran empat dekan dalam satu forum menjadi momentum penting untuk membangun perspektif lintas fakultas. Masing-masing fakultas memiliki karakteristik keilmuan dan tantangan yang berbeda, tetapi semuanya memiliki tujuan yang sama, yaitu memperkuat kualitas pendidikan dan membangun UMU Buton menjadi perguruan tinggi yang semakin maju.

Dekan Fakultas Ilmu Pemerintahan dan Hukum (FIPH), Darmin Hasirun, S.Sos., M.Si., menekankan pentingnya menjadikan dialog sebagai bagian dari budaya organisasi.

“Kita tidak harus selalu memiliki pandangan yang sama, tetapi kita harus memiliki tujuan yang sama. Perbedaan pandangan harus menjadi sumber gagasan untuk perbaikan, bukan menjadi alasan untuk menjauh satu sama lain. Bincang seperti ini penting karena melalui komunikasi yang terbuka kita dapat mengetahui apa yang sudah baik, apa yang masih perlu diperbaiki, dan apa yang harus kita lakukan bersama untuk memajukan fakultas dan universitas.”

Menurutnya, penguatan akademik harus berjalan seiring dengan penguatan budaya kerja. Implementasi OBE, kesiapan RPS, pemanfaatan LMS, peningkatan kompetensi dosen, serta pengembangan mahasiswa harus didukung dengan komunikasi dan kerja sama yang baik.

“Mutu akademik tidak akan lahir hanya dari dokumen yang baik. Mutu harus terlihat dalam proses pembelajaran, pelayanan kepada mahasiswa, penelitian, pengabdian, dan terutama dalam budaya kerja kita sehari-hari,” tegasnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Yusman Sutoyo,S.E.,M.E menyoroti pentingnya memastikan proses pendidikan mampu menjawab perubahan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.

Menurutnya, perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang memahami teori, tetapi harus mampu membentuk lulusan yang adaptif, memiliki kemampuan memecahkan masalah, mampu berkomunikasi, serta memiliki integritas.

“Kita harus memastikan bahwa apa yang kita ajarkan kepada mahasiswa memiliki relevansi dengan kebutuhan dunia nyata. Mahasiswa harus dibekali tidak hanya dengan pengetahuan, tetapi juga keterampilan, kemampuan beradaptasi, kreativitas, dan karakter. Karena itu, kualitas pembelajaran harus terus kita evaluasi dan tingkatkan,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa transformasi digital harus dimanfaatkan sebagai peluang untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran.

“Teknologi jangan hanya menjadi pelengkap. Kita harus menjadikannya sebagai instrumen untuk memperluas akses belajar, memperbaiki pelayanan akademik, dan meningkatkan kualitas interaksi antara dosen dan mahasiswa,” tambahnya.

Dari perspektif Fakultas Pertanian dan Peternakan (FAPERTA), La Aman Tabia,S.P.,M.P penguatan perguruan tinggi tidak dapat dipisahkan dari kontribusi nyata ilmu pengetahuan kepada masyarakat.

Dekan FAPERTA menegaskan bahwa kampus harus mampu menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan masyarakat, terutama melalui penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

“Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab sosial. Ilmu yang kita kembangkan di kampus harus memiliki manfaat nyata bagi masyarakat. Karena itu, penelitian dan pengabdian jangan hanya menjadi kewajiban administratif, tetapi harus diarahkan untuk menjawab persoalan yang benar-benar dihadapi masyarakat,” ungkapnya.

Ia juga mendorong agar kolaborasi antarbidang keilmuan semakin diperkuat.
“Persoalan masyarakat tidak pernah berdiri sendiri. Karena itu, penyelesaiannya juga membutuhkan kolaborasi lintas disiplin. Fakultas harus saling membuka ruang kerja sama sehingga kekuatan masing-masing bidang dapat disatukan,” katanya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Irawati Windani,S.Pd.,M.Pd menekankan pentingnya keteladanan dalam membangun budaya akademik dan karakter mahasiswa. Menurutnya, pendidikan bukan hanya proses transfer pengetahuan, tetapi juga proses membentuk sikap dan karakter.

“Mahasiswa belajar bukan hanya dari apa yang kita sampaikan di dalam kelas, tetapi juga dari apa yang mereka lihat dari perilaku kita. Karena itu, dosen dan seluruh unsur perguruan tinggi harus menjadi teladan dalam kedisiplinan, integritas, etika, dan tanggung jawab,” tuturnya.

Ia menambahkan bahwa budaya akademik yang kuat harus dibangun secara konsisten.
“Kita ingin membangun budaya kampus yang membuat setiap orang merasa dihargai, memiliki tanggung jawab, dan terdorong untuk memberikan yang terbaik. Budaya seperti ini tidak bisa dibangun dalam satu hari, tetapi harus dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten,” jelasnya.

Dalam forum tersebut, berbagai aspek akademik menjadi bagian penting dalam pembahasan. Di antaranya implementasi Outcome-Based Education (OBE), kesiapan Rencana Pembelajaran Semester (RPS), pemanfaatan Learning Management System (LMS), peningkatan kompetensi dosen, penguatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, serta peningkatan kualitas mahasiswa.

OBE menjadi salah satu perhatian karena pembelajaran perguruan tinggi saat ini dituntut tidak hanya berorientasi pada materi, tetapi pada capaian dan kompetensi yang dimiliki mahasiswa.

RPS juga dipandang sebagai instrumen penting untuk memastikan proses pembelajaran berjalan terarah dan terukur. Sementara itu, LMS didorong sebagai bagian dari transformasi digital yang dapat mendukung proses pembelajaran dan pengelolaan akademik.

Namun, forum juga menyadari bahwa kualitas akademik tidak dapat dipisahkan dari persoalan non-akademik.

Komunikasi, kedisiplinan, etika, integritas, kebersamaan, dan kemampuan menyelesaikan perbedaan secara dewasa menjadi fondasi penting dalam membangun lingkungan kampus yang sehat.

Bincang akademik dan non-akademik juga menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran bahwa universitas merupakan rumah bersama. Setiap unsur memiliki posisi dan tanggung jawab masing-masing, tetapi seluruhnya berada dalam satu ekosistem yang sama.

Pimpinan universitas memberikan arah kebijakan dan tata kelola. Dekan mengawal pengembangan fakultas. Dosen menjalankan tugas pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Tenaga kependidikan memastikan pelayanan administratif berjalan dengan baik. Sementara mahasiswa menjadi bagian utama dari proses pendidikan.

Karena itu, keberhasilan institusi tidak dapat dibebankan kepada satu pihak.
“Kemajuan universitas adalah hasil kerja bersama. Tidak ada fakultas yang berjalan sendiri dan tidak ada satu unsur pun yang tidak memiliki kontribusi. Kalau kita bergerak bersama, persoalan yang berat akan menjadi lebih ringan dan peluang yang besar akan menjadi lebih mudah diwujudkan,” menjadi semangat yang mengemuka dalam forum.
Bukan Sekadar Bincang, tetapi Awal dari Perubahan

Kegiatan yang berlangsung selama dua jam tersebut tidak diarahkan sebagai forum seremonial. Lebih jauh, kegiatan ini menjadi ruang untuk membangun kesadaran bahwa setiap persoalan harus dibicarakan, setiap masukan perlu didengar, dan setiap gagasan yang baik harus memiliki peluang untuk ditindaklanjuti.

Forum juga menjadi pengingat bahwa kritik bukanlah ancaman bagi institusi. Kritik yang disampaikan secara objektif dan konstruktif justru merupakan bagian dari mekanisme perbaikan.

Dengan semangat tersebut, Bincang Akademik dan Non-Akademik diharapkan dapat memperkuat komunikasi antara unsur pimpinan, dosen, dan tenaga kependidikan di lingkungan UMU Buton.

Kegiatan pada Kamis, 20 Agustus 2026, tersebut akhirnya membawa satu pesan penting: kemajuan perguruan tinggi tidak hanya ditentukan oleh seberapa baik kebijakan dibuat, tetapi juga seberapa kuat seluruh unsur di dalamnya bersedia bekerja bersama untuk melaksanakan dan mengevaluasinya.

Empat fakultas dengan karakter keilmuan yang berbeda hadir dalam satu ruang, membawa perspektif masing-masing, tetapi bertemu pada satu tujuan: membangun UMU Buton yang semakin berkualitas, profesional, adaptif, berintegritas, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Bagi UMU Buton, dialog semacam ini menjadi bagian dari perjalanan panjang membangun budaya mutu. Sebab perubahan besar sering kali tidak dimulai dari sesuatu yang rumit, tetapi dari kemauan untuk duduk bersama, berbicara secara terbuka, mendengarkan dengan tulus, dan kemudian bergerak bersama.

Dari bincang lahir gagasan. Dari gagasan lahir komitmen. Dan dari komitmen bersama, lahirlah perubahan.

Tags:

Bagikan: