FIPH Online — Subuh di Desa Kapoa datang perlahan. Udara terasa dingin, sementara langit masih berada dalam suasana remang, seakan malam belum sepenuhnya rela meninggalkan bumi dan pagi belum benar-benar mengambil alih. Di tengah kesunyian itulah satu per satu anggota rombongan Bakti Sosial Fakultas Ilmu Pemerintahan dan Hukum (FIPH) Universitas Muslim Buton (UMU Buton) terbangun. Beberapa di antaranya segera melangkahkan kaki menuju masjid untuk menunaikan salat Subuh. Hari terakhir pengabdian itu dimulai dengan suasana yang sederhana, tetapi justru dari kesederhanaan itulah cerita panjang tentang Desa Kapoa kembali mengalir. (16/8/2026).
Air wudu yang mengalir dari keran masjid terasa dingin dan tawar. Bagi sebagian orang, mungkin tidak ada yang istimewa dari air seperti itu. Namun, bagi kami yang selama beberapa hari berada di wilayah Kadatua, rasa tawar tersebut justru menjadi pengalaman yang membekas. Di beberapa tempat yang pernah kami singgahi, air yang tersedia terkadang terasa asin. Keterbatasan akses terhadap air bersih masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat, termasuk dalam memenuhi kebutuhan tempat-tempat ibadah. Pagi itu, dinginnya air wudu seperti mengingatkan kami bahwa kehidupan masyarakat di setiap tempat memiliki cerita dan tantangannya sendiri.
Masjid tempat kami melaksanakan salat Subuh cukup luas dan mampu menampung jamaah dalam jumlah yang banyak. Halamannya terbuka, sedangkan di bagian belakang berdiri sebuah tebing yang ditumbuhi pepohonan rindang. Pepohonan itu memberikan keteduhan sehingga suasana di sekitar masjid tetap terasa sejuk ketika matahari mulai meninggi. Ada ketenangan yang sulit dijelaskan di tempat itu. Seolah-olah Desa Kapoa memberikan ruang kepada kami untuk berhenti sejenak, menarik napas, dan menikmati pagi sebelum kembali menyatu dengan aktivitas masyarakat.
Usai salat Subuh, kehidupan pagi mulai bergerak. Kami kemudian mencari sarapan untuk mengisi tenaga sebelum kembali ke lokasi pengabdian. Roti goreng, roti bakar, roti pawa, roti gula merah, dan beberapa makanan sederhana lainnya menjadi pilihan. Di tengah perjalanan, kami melihat seorang ibu yang sedang menjajakan makanan pagi. Kami pun menghampirinya. Tanpa banyak pertimbangan, dagangannya kami borong sekitar Rp30 ribu. Makanan tersebut kemudian dibawa ke posko untuk dinikmati bersama. Sederhana memang, tetapi ada kehangatan tersendiri ketika makanan yang dibeli dari warga menjadi bagian dari energi yang kami gunakan untuk kembali bekerja bersama warga.
Setelah urusan sarapan selesai, saya kembali ke depan posko. Di sana saya bertemu seorang warga yang sedang duduk santai. Kami mulai berbincang tentang kegiatan yang sedang kami lakukan. Percakapan yang awalnya singkat kemudian berlanjut ketika beliau mengajak saya duduk di gode-gode rumahnya. Saya menerima ajakan tersebut. Kurang lebih 30 menit kami berbicara tentang banyak hal, terutama mengenai perjalanan rombongan selama tiga hari di Desa Kapoa—tentang kedatangan pada Jumat, kegiatan yang telah dilakukan, hingga rencana kembali ke Baubau pada Minggu.
Dari percakapan itu saya mengetahui bahwa sebagian warga ternyata sempat mengira rombongan FIPH UMU Buton sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata selama satu bulan. Saya kemudian menjelaskan bahwa kegiatan yang kami lakukan bukan KKN, melainkan bakti sosial yang dilaksanakan dalam waktu singkat dengan tujuan memberikan kontribusi langsung kepada masyarakat. Bagi saya, percakapan tersebut lebih dari sekadar obrolan pagi. Ada ruang perkenalan yang tercipta secara alami. Kami datang membawa agenda pengabdian, tetapi sebelum bekerja, kami terlebih dahulu belajar mendengar cerita masyarakat. Dari situlah saya kembali menyadari bahwa pengabdian tidak selalu dimulai dengan alat kerja di tangan. Terkadang, pengabdian justru dimulai dari kesediaan untuk duduk, berbicara, dan mendengarkan.
Sekitar pukul 07.00 WITA, kabar datang bahwa warga telah lebih dahulu berkumpul di lokasi bakti sosial. Saya pun berpamitan dan segera kembali ke posko untuk berganti pakaian agar lebih leluasa bekerja. Namun, sesampainya di posko, saya mendapati dua orang teman masih tertidur. Waktu bekerja sudah tiba, sementara keduanya masih terlelap. Dengan sedikit terpaksa, saya membangunkan mereka. Tidak butuh waktu lama, keduanya akhirnya bangun dan bersiap menuju lokasi. Yang menarik, mereka bahkan belum sempat sarapan. Dengan hanya bermodalkan air mineral dalam gelas, kami berjalan bersama seorang ibu tetangga menuju tempat kegiatan.
Perjalanan pagi itu ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Kami harus melewati jalan yang menanjak dan menaiki bukit yang cukup tinggi. Saya yang sudah sarapan tentu lebih bersemangat, sementara kedua teman yang baru saja bangun dan belum makan harus mengumpulkan tenaga sambil berjalan. Sesekali kami bercanda untuk mengurangi rasa lelah. Bukit yang harus dilewati terasa seperti tantangan kecil sebelum pekerjaan yang sebenarnya dimulai. Dalam perjalanan itu, kami belajar bahwa pengabdian memang membutuhkan kesiapan—bukan hanya kesiapan tenaga, tetapi juga kemauan untuk berjalan bersama, saling menunggu, dan saling menguatkan.
Setibanya di lokasi, kami menemukan sebuah rabat jalan yang sebelumnya telah dibangun, tetapi belum seluruhnya dilanjutkan. Rumput telah tumbuh di sepanjang sisi dan sebagian permukaan jalan. Beberapa bagian bahkan tampak mulai tertutup rerumputan. Di tempat itulah kami akan menghabiskan waktu sekitar dua jam untuk membersihkan lingkungan jalan.
Kepala Desa Kapoa, Samsudin, kemudian menjelaskan kepada kami kondisi jalan tersebut. Menurutnya, ruas jalan itu memiliki panjang sekitar dua kilometer dan merupakan salah satu akses di kawasan Desa Kapoa yang terhubung langsung dengan jalan raya yang sudah diaspal. “Jalan ini cukup panjang, sekitar dua kilometer, dan terhubung dengan jalan raya yang sudah diaspal. Karena itu, jalan ini memiliki arti penting bagi masyarakat dan kami berharap ke depan akses ini dapat terus diperhatikan dan dikembangkan,” ujar Samsudin.
Penjelasan itu membuat kami memahami bahwa apa yang sedang kami kerjakan sebenarnya bukan sekadar membersihkan rumput. Di balik jalan yang tampak sederhana itu terdapat kebutuhan masyarakat terhadap akses yang lebih baik. Jalan merupakan penghubung. Ia mempertemukan rumah dengan kebun, warga dengan pusat aktivitas, dan desa dengan wilayah di sekitarnya. Karena itu, meskipun pekerjaan kami hari itu hanya membersihkan kurang lebih 100 meter dari ruas yang jauh lebih panjang, kami menyadari bahwa setiap bagian yang dikerjakan tetap memiliki arti.
Warga ternyata sudah lebih dahulu datang. Ketika kami tiba, beberapa di antara mereka telah sibuk membabat rumput dan membersihkan jalan. Kami pun langsung mengambil bagian. Tidak ada instruksi panjang, tidak ada jarak antara siapa yang dosen, siapa yang mahasiswa, siapa yang pemerintah desa, dan siapa yang masyarakat. Semua bergerak. Ada yang mencabut rumput, ada yang membabat, ada yang mengumpulkan rerumputan yang telah dipotong, dan ada yang membersihkan bagian jalan yang tertutup tanaman liar.
Sekitar 50 orang berada di lokasi pagi itu. Mereka berasal dari unsur dosen, mahasiswa, masyarakat, dan pemerintah desa. Jumlah tersebut mungkin tidak besar jika dibandingkan dengan pekerjaan yang harus diselesaikan, tetapi semangat yang terlihat jauh lebih besar daripada jumlah orang yang hadir. Di bawah matahari yang perlahan meninggi, tangan-tangan yang berbeda latar belakang bekerja dalam satu irama. Rumput yang semula tumbuh liar mulai berkurang. Bagian jalan yang sebelumnya tertutup mulai terlihat kembali.
Pada saat itulah makna gotong royong terasa begitu nyata.
Tidak ada pekerjaan yang terlalu kecil ketika dikerjakan bersama. Tidak ada status yang perlu dipertontonkan ketika kepentingan masyarakat menjadi tujuan. Dosen dan mahasiswa bekerja bersama warga. Pemerintah desa tidak hanya berdiri memberikan arahan, tetapi ikut mencabut rumput. Semua berada dalam satu ruang yang sama, mengerjakan pekerjaan yang sama, dan merasakan panas matahari yang sama.
Salah satu sosok yang paling terlihat berada di tengah aktivitas tersebut adalah Kepala Desa Kapoa, Samsudin. Ia tidak memilih berdiri jauh dari masyarakat. Ia justru ikut mencabut rumput dan membersihkan jalan. Pemandangan itu menjadi gambaran sederhana tentang bagaimana seorang pemimpin dapat hadir secara langsung di tengah masyarakat.
Samsudin mengatakan, kehadiran FIPH UMU Buton memberikan energi positif bagi masyarakat Desa Kapoa. “Kami sangat mengapresiasi kegiatan bakti sosial yang dilaksanakan FIPH UMU Buton. Kehadiran dosen dan mahasiswa di tengah masyarakat bukan hanya membantu pekerjaan yang ada, tetapi juga memberikan semangat kepada masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan dan fasilitas desa,” ungkapnya.
Menurut Samsudin, kegiatan tersebut tidak hanya memberikan manfaat secara fisik, tetapi juga memperkuat hubungan antara pemerintah desa, masyarakat, dan perguruan tinggi. Karena itu, ia berharap kegiatan seperti ini tidak berhenti sebagai sebuah agenda sesaat. “Kami berharap hubungan seperti ini tidak berhenti pada kegiatan hari ini. Kami ingin silaturahmi dan kerja sama antara Desa Kapoa dengan UMU Buton terus terjalin. Kehadiran perguruan tinggi di tengah masyarakat sangat berarti karena mahasiswa tidak hanya membawa tenaga, tetapi juga membawa pengetahuan, semangat, dan kepedulian sosial,” lanjutnya.

Sementara itu, bagi Dekan FIPH UMU Buton, Darmin Hasirun, S.Sos., M.Si., kegiatan tersebut memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar membersihkan jalan. Ia melihat bakti sosial sebagai bagian dari tanggung jawab perguruan tinggi untuk hadir dan memberikan manfaat di tengah masyarakat. “Bakti sosial ini bukan sekadar kegiatan datang ke desa, bekerja selama beberapa jam, kemudian kembali ke kampus. Yang lebih penting adalah bagaimana kita membangun kepedulian, menghadirkan rasa kebersamaan, dan menunjukkan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab sosial terhadap masyarakat,” ujar Darmin.
Bagi Darmin, berada di tengah masyarakat juga menjadi bagian penting dari proses pembelajaran mahasiswa. Ruang kelas memang memberikan pengetahuan, tetapi kehidupan masyarakat memberikan pengalaman. “Mahasiswa harus belajar bahwa ilmu yang diperoleh di ruang kelas memiliki makna ketika mampu diterjemahkan dalam kehidupan nyata. Ketika mereka turun bersama masyarakat, bekerja bersama warga dan pemerintah desa, mereka belajar tentang kepemimpinan, gotong royong, komunikasi, tanggung jawab, serta bagaimana menyelesaikan persoalan secara bersama-sama,” jelasnya.
Pesan itu terasa nyata di lokasi. Mahasiswa tidak hanya belajar melalui teori tentang pemerintahan, masyarakat, dan pengabdian. Mereka melihat langsung bagaimana sebuah desa bergerak, bagaimana pemerintah berinteraksi dengan masyarakat, dan bagaimana sebuah persoalan sederhana dapat diselesaikan ketika semua pihak bersedia bekerja bersama.
Darmin juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Desa Kapoa dan masyarakat yang telah menerima rombongan FIPH UMU Buton dengan penuh kekeluargaan. “Kami berterima kasih kepada pemerintah dan masyarakat Desa Kapoa yang telah menerima kami dengan penuh kekeluargaan. Kami datang membawa semangat pengabdian, tetapi dalam prosesnya justru kami banyak belajar dari masyarakat. Bagi kami, itu adalah nilai yang sangat penting,” katanya.
Ia menegaskan bahwa ukuran keberhasilan pengabdian tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa besar pekerjaan fisik yang berhasil dilakukan. “Jangan melihat besar atau kecilnya pekerjaan. Membersihkan seratus meter jalan mungkin terlihat sederhana, tetapi jika dilakukan bersama-sama dengan niat yang baik, dampaknya jauh lebih besar daripada sekadar panjang jalan yang kita bersihkan. Yang kita bangun adalah kepedulian dan kesadaran bahwa lingkungan dan desa ini adalah tanggung jawab bersama,” tegas Darmin.
Kalimat itu seolah menjadi gambaran paling tepat tentang apa yang terjadi pagi itu. Jalan yang dibersihkan memang hanya sekitar 100 meter. Namun, jika yang diukur bukan panjang jalan, melainkan nilai yang tumbuh selama prosesnya, maka pekerjaan tersebut memiliki makna yang jauh lebih panjang. Ada hubungan yang semakin dekat antara kampus dan masyarakat. Ada mahasiswa yang belajar langsung dari kehidupan warga. Ada pemerintah desa yang membuka ruang kolaborasi. Dan ada masyarakat yang merasakan bahwa mereka mendapatkan dukungan dari perguruan tinggi.
Menjelang berakhirnya kegiatan, tubuh mulai terasa lelah. Keringat bercampur dengan debu, sementara alat kerja perlahan diletakkan. Namun, ada kepuasan yang sulit dijelaskan ketika melihat bagian jalan yang sebelumnya dipenuhi rumput kini tampak lebih terbuka. Tidak ada tepuk tangan besar. Tidak ada panggung. Tidak ada seremoni yang berlebihan. Hanya ada orang-orang yang berdiri dengan tubuh yang lelah, tetapi dengan perasaan bahwa mereka telah melakukan sesuatu bersama.
Mungkin, justru di situlah keindahan pengabdian.
Bukan pada kemeriahan acaranya, melainkan pada kesediaan untuk turun langsung. Bukan pada panjangnya jalan yang berhasil dibersihkan, melainkan pada panjangnya kebersamaan yang terbangun. Bukan pada siapa yang paling banyak bekerja, tetapi pada kesediaan semua pihak untuk mengambil bagian.

Hari ketiga bakti sosial di Desa Kapoa akhirnya bukan sekadar hari terakhir sebelum rombongan kembali ke Baubau. Ia menjadi penutup perjalanan yang menyimpan begitu banyak potongan cerita: dinginnya air wudu di waktu Subuh, ibu penjual sarapan yang dagangannya kami borong, percakapan sederhana di gode-gode rumah warga, dua teman yang harus dibangunkan untuk bekerja meski belum sarapan, perjalanan melewati bukit, hingga rumput-rumput yang dicabut bersama di sepanjang rabat jalan.
Semua potongan kecil itu akhirnya menyatu menjadi satu cerita besar tentang manusia yang bersedia hadir untuk manusia lainnya.
Dari Desa Kapoa, kami belajar bahwa pengabdian tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Kadang ia hanya membutuhkan langkah pertama: datang. Kemudian mendengar. Setelah itu bekerja. Dan pada akhirnya, bersedia berjalan bersama masyarakat.
Jalan yang dibersihkan hari itu mungkin hanya sekitar seratus meter. Namun, semangat yang lahir dari kebersamaan tidak dapat diukur dengan meter. Sebab, yang tumbuh bukan hanya jalan yang lebih bersih, melainkan juga rasa memiliki, kepedulian, persaudaraan, dan keyakinan bahwa setiap persoalan akan terasa lebih ringan ketika dikerjakan bersama.
Ketika rombongan akhirnya bersiap meninggalkan lokasi, Desa Kapoa tidak lagi terasa sekadar sebagai tempat persinggahan selama tiga hari. Desa itu telah menjadi ruang belajar, ruang berbagi, sekaligus ruang untuk memahami bahwa pengabdian sesungguhnya bukanlah tentang seberapa besar kita memberi kepada masyarakat.
Pengabdian adalah tentang seberapa tulus kita hadir, seberapa ikhlas kita bekerja, dan seberapa besar harapan yang dapat kita tinggalkan setelah kita pergi.
Dan dari jalan kecil di Desa Kapoa itu, kami pulang membawa satu keyakinan: ketika tangan-tangan bersatu dalam semangat gotong royong, pekerjaan yang sederhana dapat berubah menjadi sebuah cerita yang luar biasa.




