id
en
ar

Kuliah di Tengah Sunyi: Refleksi Praktikum Analisis Kebijakan di Perpustakaan Umum Kota Baubau

FotoKuliahdiPerpusdaKotaBaubau
Foto Bersama Mahasiswa Program Studi Administrasi Pemerintahan Daerah disela-sela perkuliahan pada Mata Kuliah “Praktikum Analisis Kebijakan”

Pada Selasa, 5 Mei 2026, suasana berbeda tampak di Perpustakaan Umum Daerah Kota Baubau. Di tengah rak-rak buku yang selama ini lebih banyak ditemani kesunyian, sejumlah mahasiswa mengikuti perkuliahan mata kuliah Praktikum Analisis Kebijakan. Aktivitas akademik itu bukan sekadar perpindahan ruang belajar dari kampus menuju perpustakaan, melainkan lahir dari sebuah kegelisahan yang cukup lama saya rasakan sebagai insan akademik.

Sulit untuk mengabaikan kenyataan bahwa perpustakaan daerah yang berada di tengah pusat Kota Baubau justru tampak kehilangan denyut kehidupan literasinya. Padahal, secara geografis perpustakaan ini berada di kawasan yang dikelilingi berbagai perguruan tinggi, seperti Universitas Dayanu Ikhsanuddin, Universitas Muslim Buton, Universitas Muhammadiyah Buton, serta beberapa institusi pendidikan lainnya. Dalam logika sederhana, keberadaan kampus-kampus tersebut seharusnya mampu menciptakan ekosistem intelektual yang hidup dan menjadikan perpustakaan sebagai ruang publik yang aktif dipenuhi aktivitas membaca, berdiskusi, dan bertukar gagasan.

Namun realitas yang terlihat justru menghadirkan ironi. Perpustakaan berdiri megah di tengah kota pendidikan, tetapi berjalan dalam kesunyian. Ruang yang semestinya menjadi pusat interaksi pengetahuan perlahan kehilangan daya tarik sosialnya. Fenomena ini tentu tidak bisa hanya dibaca sebagai persoalan rendahnya jumlah pengunjung semata, melainkan sebagai tanda adanya persoalan yang lebih luas dalam pembangunan budaya literasi publik.

Dari kegelisahan itulah muncul inisiatif untuk menggelar perkuliahan Praktikum Analisis Kebijakan di perpustakaan daerah. Saya memandang bahwa mata kuliah ini tidak cukup hanya diajarkan di dalam ruang kelas melalui tumpukan teori dan diskusi konseptual. Analisis kebijakan pada dasarnya menuntut kepekaan membaca realitas sosial secara langsung. Mahasiswa perlu diperhadapkan dengan problem nyata yang hidup di tengah masyarakat, termasuk persoalan sunyinya ruang literasi publik, ini juga perlu menjadi bahan diskursus disetiap sesi diskusi saat perkuliahan berlangsung.

Perpustakaan yang sepi sesungguhnya merupakan isu kebijakan publik. Ia berkaitan dengan bagaimana strategi pemerintah dalam membangun budaya baca masyarakat, bagaimana ruang publik dikelola agar tetap relevan dengan kebutuhan generasi muda, serta bagaimana institusi pendidikan mengambil peran dalam memperkuat tradisi intelektual di daerah. Dalam konteks inilah, perpustakaan tidak dapat lagi dipandang sekadar sebagai tempat penyimpanan buku, tetapi harus menjadi ruang sosial yang hidup, adaptif, dan mampu membangun interaksi pengetahuan.

Kuliah yang kami lakukan di perpustakaan pada hari itu memang sederhana. Tidak ada seremoni besar, tidak pula ada agenda formal yang berlebihan. Akan tetapi, bagi saya, kehadiran mahasiswa di ruang tersebut memiliki makna simbolik yang cukup penting. Setidaknya, ada pesan moral yang ingin disampaikan bahwa perpustakaan tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri dalam kesunyian. Kampus dan insan akademik memiliki tanggung jawab moral untuk ikut menjaga hidupnya ruang-ruang literasi publik.

Belajar di Tengah Sunyi

Foto Saat Perkuliahan di Ruang Utama Pepustakaan Umum Daerah Kota Baubau
Foto Saat Perkuliahan di Ruang Utama Pepustakaan Umum Daerah Kota Baubau

Fenomena ini juga menjadi refleksi bagi dunia pendidikan tinggi di daerah. Kehadiran perguruan tinggi semestinya tidak hanya diukur dari jumlah mahasiswa atau pembangunan fisik kampus, tetapi juga dari sejauh mana institusi akademik mampu mempengaruhi tumbuhnya budaya intelektual di lingkungan sosialnya. Kota yang memiliki banyak kampus seharusnya memiliki denyut literasi yang kuat. Jika perpustakaan daerah tetap sepi di tengah banyaknya institusi pendidikan tinggi, maka ada mata rantai yang belum sepenuhnya tersambung antara dunia akademik, pemerintah daerah, dan kehidupan literasi masyarakat.

Saya percaya bahwa membangun budaya literasi memang tidak dapat dilakukan melalui slogan semata. Ia membutuhkan kehadiran nyata, keteladanan, dan keberanian untuk menghidupkan kembali ruang-ruang pengetahuan yang mulai ditinggalkan. Apa yang kami lakukan mungkin hanyalah langkah kecil, tetapi perubahan sosial sering kali berawal dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara sadar dan konsisten.

Pada akhirnya, kuliah di tengah sunyi itu bukan hanya tentang proses belajar mahasiswa dalam mata kuliah Praktikum Analisis Kebijakan. Lebih dari itu, ia adalah refleksi tentang tanggung jawab moral dunia akademik terhadap masa depan literasi publik di Kota Baubau. Sebab sebuah kota tidak hanya dikenang dari megahnya bangunan dan ramainya pusat perdagangan, tetapi juga dari sejauh mana kota itu mampu menjaga hidupnya ruang-ruang pengetahuan dan tradisi membaca masyarakatnya.

Penulis,

La Januru, S.IP., M.IP

Dosen Adminsitrasi Pemerintahan Daerah

Sekaligus Ketua Program Studi Administrasi Pemerintahan Daerah

Fakultas Ilmu Pemerintahan dan Hukum Universitas Muslim Buton

Tags:

Bagikan: